Logo

Unstopable-Man dari Gorong-Gorong dan Perjuangannya Jadi Doktor

Blog Single

Ada saja orang yang bisa menjadi sumber inspirasi. Jika bukan karena hidup yang keras, orang-orang tersebut mungkin tak bisa merasakan apa yang disebut kesuksesan. Tentu saja untuk mencapainya perlu proses panjang, yang kadang harus menerobos segala halangan dan rintangan demi mencapai tujuan.

Setidaknya itulah yang dialami oleh Leonardus Tumuka. Boleh dibilang hidupnya semasa kecil amat keras dan sulit. Namun, kepahitan hidup justru melecutnya untuk memperbaiki nasib yang lebih baik. Benar saja, berkat filosofi badak yang dianutnya, Leo tak hanya berhasil mewujudkan mimpinya, tetapi ia kini menjadi salah satu orang kampung halamannya.

Siapakah Leonardus Tumuka ini? Yuk, gali inspirasi lebih lengkap darinya lewat ulasan berikut ini.

Anak Nelayan Suku Kamoro

Mungkin kamu akan berpikir, hidup menjadi seorang anak nelayan sendiri tentulah tidak mudah. Namun, kesulitan yang dialami Leo kecil lebih dari itu. Ia mungkin tak masalah lahir dari Suku Kamoro, tetapi hidup dengan sembilan saudara dari keluarga kurang mampulah, yang membuat hidup yang dilaluinya menjadi amat keras.

Pernah Tinggal di Gorong-Gorong

Hidup Leo kian terasa sulit, saat kedua orangtuanya mulai sakit-sakitan. Belum lagi ditambah tekanan sosial yang menilai keluarga Leo kurang terpandang. Bahkan, Leo dan saudaranya kerap dianggap tak memiliki keluarga. Beratnya tekanan sosial yang dihadapi, sampai-sampai haru membuat Leo dan keluarganya memilih tinggal di gorong-gorong.

Harus Banting Tulang Sejak Kecil

Gara-gara sakit yang dialami orangtuanya, mau tak mau Leo yang baru berusia 7 tahun harus banting tulang juga demi menyambung hidup. Setiap hari ia harus pasang jaring dan menangkap ikan di sungai. Tak jarang kakinya terkena beling lantaran tak punya sandal. Pilihan sulit tersebut terpaksa diambilnya, sebagai anak tertua yang harus menghidupi keluarganya.

Panggilan Hati untuk Sekolah

Sampai usia 8 tahun Leo belum juga masuk sekolah. Di waktu yang sama, PT Freeport melakukan penggalian untuk membuat bendungan di sekitar gorong-gorong. Akibat proyek tersebut, sungai yang biasa digunakan Leo untuk mencari ikan lenyap. Ia berpikir keras untuk mencari jalan lain untuk menghidupi keluarganya. Siapa sangka panggilan seorang guru SD Inpres Koperapoka, membuka ketertarikannya untuk serius mengenyam bangku sekolah.

Mendulang Beasiswa Lewat Prestasi

Berkat prestasi dan ketekunannya belajar di sekolah, Leo mendapatkan beasiswa untuk lanjut studi ke SMP YPPK Santo Bernadus Timika. Pada 2002, Leo terpilih bersama 72 anak dari Papua untuk melanjutkan studi ke SLTA di Jawa dengan beasiswa dari Kemendikbud. Semangatnya belajar, mengantarkan Leo selepas lulus dari SMAN 2 Madiun masuk jurusan Hubungan Internasional di Universitas Pasundan, Bandung.

Menjadi Doktor Pertama dari Suku Kamoro

Jenjang pendidikan Leo tak berhenti pada S1. Berkat beasiswa dari Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK), Leo melanjutkan studi S2 ke Universitas Katolik Soegiyapranoto Semarang. Sesudahnya, Leo pun berhasil menyelesaikan pendidikan doktoralnya di University of the Philipines Los Banos, Filipina dan menjadi anak nelayan Suku Kamoro Papua pertama yang menjadi doktor.

Dengan disertasi yang mengangkat faktor yang menghambat pemberdayaan ekonomi, pendidikan dan kesehatan Suku Kamoro, kini Leo berusaha mengajak dan memotivasi generasi Papua, terutama dari sukunya, agar tak ragu menerjang segala rintangan dan halangan demi mencapai tujuan, sebagaimana perilaku alami badak yang kerap dijadikan filosofi.

Selain menjadi konsultan di Departemen Community Affairs PT Freeport Indonesia di Kuala Kencana, Timika, kini Leo juga mengabdikan diri untuk pendidikan di kampung halamannya, dengan menjadi pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Jembatan Bulan Timika.

Jika Leonardus Tumuka yang hidupnya begitu sulit dan keras saja bisa membuat nasibnya membaik, bahkan sukses mewujudkan cita-citanya, otomatis kamu juga bisa sesukses Leo dengan kondisi hidup yang lebih baik, bukan?